Selasa, 26 Februari 2013

Aliran-aliran Psikologi


1.      Psikologi Strukturalisme

      Ide dari seorang Wundt, dipopulerkan oleh muridnya E.B.Ticthener (1867 -1927) yang menyebut pendekatan Wundt dengan nama strukturalisme. Seperti Wundt, para strukturalis  berharap dapat menganalisis berbagai sensasi, gambaran, dan perasaan ke dalam elemen-elemen dasar. Sebagai contoh, ketika seorang mendengarkan metronom dan melaporkan secara tepat apa yang ia dengar. Kebanyakan dari mereka menangkap sebuah pola (klik, KLIK , klik ,KLIK), meskipun semua bunyi dari metronom tersebut sama. Atau seorang juga bisa diminta menguraikan semua komponen cita rasa yang berbeda-beda, ketika menggigit sebuah jeruk ( manis, asam, basah, dan sebagainya).
     Bertahun-tahun setelah strukturalisme mati, Wolfgang Kohler (1959) berpendapat, “apa yang dulu mengganggu kami adalah ... dampaknya, yaitu bahwa kehidupan manusia yang tampaknya begitu berwarna dan sangat dinamis, ternyata sebenarnya hanyalah sesuatu yang membosankan”.
     Kepercayaan strukturalisme pada introspeksi diri yang dilakukan oleh para pastisipan juga menimbulkan persoalan bagi mereka. Para partisipan yang melakukan introspeksi itu kerap memberikan laporan-laporan yang bertentangan satu sama lain. Ketika ditanya gambaran apa yang muncul, ketika mendengar kata segitiga, kebanyakan responden membayangkan suatu benda dengan sudut-sudut yang sama ; responden lainnya menjawab bahwa ia melihat suatu yang melingkar dengan satu sudut lebih besar dari yang lainnya. Karena itu, sulit mengetahui atribut mental apa yang menjadi dasar sebuah segitiga.
     Objek yang dipelajari dalam psikologi ini adalah kesadaran, jiwa, dan penginderaan. Misal, Jika seseorang melihat bunga dan menyatakan “ bunga itu merah”. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa perhatian seseorang yang utama adalah dalam bunga itu sendiri, bukan pada fakta bahwa seseorang mengalami kemerahannya itu sendiri.
     The immediate experience dalam melihat pada bunga itu tidak pada obyek itu sendiri, tetapi lebih pada pengalaman mengenai sesuatu yang berwarna merah. Jadi, menurut Wundt immediate experience itu tidak dibatasi oleh interpretasi, seperti halnya pada pernyataan pengalaman “bunga itu merah”, dalam arti pada obyek bunga itu sendiri.
     Mengenai introspeksi Wundt mengajukan beberapa hukum atau ketentuan, yaitu (1) observer harus mampu menentukan kapan proses itu terjadi ; (2) observer harus memusatkan perhatiannya ; (3) observer harus mampu mengulangi observasi berulangkali ; (4) eksperimenter harus mampu mengontrol manipulasi.
    

    
    
     Observasi dilakukan terhadap suatu pengalaman. Hanya orang yang mempunyai pengalaman tersebut yang dapat mengadakan observasi.
Karena itu metodenya adalah introspeksi, yaitu penelitian seseorang dengan observasi dirinya sendiri mengenai keadaan psikisnya.



2.      Psikologi Fungsional

      Pendekatan ini berlawanan dengan strukturalis yang berusaha untuk menganalisis dan mendeskripsikan sesuatu. Salah satu pemimpin fungsionalis adalah William James ( 1842 – 1910 ), seorang filsuf, dokter, sekaligus seorang psikolog Amerika. Ia berpendapat bahwa pencarian struktur pembangunan pengalaman sebagaimana yang telah dilakukan oleh Wundt dan Ticthener adalah usaha yang sia-sia dan membuang waktu. Otak dan pikiran terus menerus berubah menurutnya. Ide-ide yang tetap atau permanen mengenai segitiga atau apapun juga, tidak muncul secara berkala sebelum adanya “cahaya yang menyoroti kesadaran” (“footlight of consciousness”. “Upaya untuk menangkap sifat dasar pemikiran manusia melalui introspeksi”, sebagaimana yang telah ditulis oleh James, ibarat “menangkap  sesuatu yang berputar agar dapat melihat gerakannya atau mencoba menyalakan lampu secepat mungkin untuk dapat melihat seperti apakah kegelapan itu.
     Bila para strukturalis memperhatikan apa yang terjadi ketika organisme melakukan sesuatu, fungsionalis mempermasalahkan bagaimana dan mengapa. Terinspirasi dari teori evolusi. Para fungsionalis ingin mengetahui bagaimana berbagai perilaku dan proses mental yang spesifik dapat membantu seseorang atau hewan beradaptasi dengan lingkungannya. Oleh karena itulah para fungsionalis berusaha mencari penjelasan mengenai penyebab-penyebab yang mendasari serta konsekuensi praktis dari setiap perilaku dan proses mental ini. Tidak seperti para strukturalis para fungsionalis merasa bebas untuk mengambil dan memilih metode yang ada.
     Namun sayang, aliran ini kurang memiliki teori atau program penelitian yang tepat, sehingga kurang mampu menarik pengikut. Akhirnya penelitian tentang kesadaran dan konsep aliran ini tidak dapat bertahan. Meskipun demikian penekanan para fungsionalis terhadap penyebab dan konsekuensi perilaku telah menentukan perjalanan psikologi sebagai ilmu.


3.      Psikoanalisis

            Psikoanalisis menunjuk bersamaan tiga hal:
1. 1. Sebuah metode penyelidikan pikiran. Dan terutama dari pikiran bawah sadar;
2. 2. Sebuah terapi neurosis terinspirasi dari metode di atas;
3. 3. Sebuah stand baru saja disiplin yang didasarkan pada pengetahuan yang diperoleh dari penerapan metode penelitian dan pengalaman klinis.
    
     Akibatnya tidak ada yang jelas dalam definisi psikoanalisis. Psikoanalisis adalah teknik investigasi pikiran dan terapi terinspirasi dari penelitian ini. Terutama terapi untuk lebih menekankan bahwa psikoanalisis menyiratkan tidak ada spekulasi, bahwa itu adalah lebih dekat dengan psikoterapi dan jauh dari filsafat, seni atau budaya secara umum. Ilmu psikoanalisis menyebutkan bahwa ilmu ini datang dari studi terkenal Freud disebut Totem dan Tabu, di mana ia meluncurkan dirinya dan anthropologic analisis sosial mendasarkan pada pengetahuan yang menerapkan psikoanalisis untuk terapi neurosis.
                      Pada abad 19 di Amerika muncul gerakan yang sangat besar dan populer “Mind Cure”. Mind Cure merupakan usaha untuk mengoreksi “pikiran-pikiran yang salah” yang membuat seseorang menjadi cemas, depresif, dan tidak bahagia.        “Mind Cure” ini yang akan mengawali muncul terapi kognitif, suatu terapi yang memiliki pengaruh besar didunia.
                 Sigmund Freud (1859-1939), seorang neurolog yang tidak dikenal, mendengarkan laporan pasien-pasiennya mengenai depresi. Freud menjadi sangat yakin penyakit pasiennya diakibatkan oleh penyebab mental bukan penyebab fisik.
    

Kesadaran dan Ketidaksadaran sebagai aspek kepribadian

                 Pada permulaan Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis mengandung dua bagian, yaitu kesadaran (the conscious) dan ketidaksadaran (the unconscious). Bagian kesadaran bagaikan permukaan gunung es yang nampak merupakan bagian kecil dari kepribadian, sedangkan bagian ketidaksadaran (yang ada di bawah permukaan air) mengandung insting-insting yang mendorong semua perilaku manusia.

                 Freud mengemukakan pendapatnya tentang preconscious atau foreconscious. Tidak seperti dalam ketidaksadaran, maka dalam preconscious materinya belum dipres, sehingga materinya dapat mudah ditimbulkan dalam kesadaran.
                 Freud kemudian merevisi terutama kesadaran dan ketidaksadaran dan mengintrodusir id, ego, dan superego. Id berkaitan dengan pengertian yang semula ketidaksadaran, merupakan bagian yang primitif dari kepribadian. Kekuatan yang berkaitan dengan id mencakup insting seksual dan insting agresif. Id membutuhkan satisfaction dengan segera tanpa memperhatikan lingkungan realitas secara objektif, yang oleh Freud disebutnya sebagai prinsip kenikmatan (pleasure prinsip). Ego sadar akan realitas. Oleh Freud ego disebut sebagai prinsip realitas (reality principle). Ego menyesuaikan diri dengan realita. Freud mengibaratkan hubungan ego-id sebagai penunggang kuda. Penunggang akan memperhatikan keadaan realitas, sedangkan kudanya mau kemana-mana.
                 Struktur kepribadian yang ketiga yaitu superego berkembang pada permulaan masa anak sewaktu peraturan peraturan diberikan oleh orangtua dengan cara hadiah atau hukuman. Perilaku yang salah (yang memperoleh hukuman) menjadi bagian dari conscience anak, yang merupakan bagian dari superego. Perbuatan anak semula dikontrol oleh orangtuanya, tetapi apabila superego telah terbentuk, maka kontrol adri dirinya sendiri. Superego merupakan prinsip moral.

    
4.      Psikologi Behaviorisme

            Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal psikologi.  Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam.  Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak).
            Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.
            Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan.   Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa.   Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya.       Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan  manusia baik.   Kaum behavioris  memusatkan  dirinya pada pendekatan ilmiah yang sungguh-sungguh objektif.   Kaum behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka,  semua  peristilahan  yang  bersifat  subjektif,  seperti  sensasi,  persepsi,  hasrat, tujuan,   bahkan   termasuk   berpikir   dan   emosi,   sejauh   kedua   pengertian   tersebut dirumuskan secara subjektif.
           
            Fungsionalisme menjadi dasar bagi behaviorisme melalui pengaruhnya pada tokoh utama behaviorisme, yaitu Watson. Watson adalah murid dari Angell dan menulis disertasinya di University of Chicago. Dasar pemikiran Watson yang memfokuskan diri lebih proses mental daripada elemen kesadaran, fokusnya perilaku nyata dan pengembangan bidang psikologi pada animal psychology dan child psychology adalah pengaruh dari fungsionalisme. Meskipun demikian, Watson menunjukkan kritik tajam pada fungsionalisme.

            Menurut pandangan Watson ( behaviorist view) psikologi itu murni merupakan cabang daro ilmu alam (natural science) eksperimental. Tujuannya secara teoretis adalah untuk memprediksi dan mengontrol perilaku. Introspeksi bukanlah merupakan metode yang digunakan. Yang dipelajari adalah perilaku yang diamati, bukan kesadaran karena merupakan pengertian yang dubious.
            Eksperimen Watson yang paling terkenal adalah eksperimennya dengan anak yang bernama Albert, yaitu anak yang berusia 11 bulan. Watson dan Rosali Rayner istrinya mengadakan eksperimen dengan Albert dengan menggunakan tikus putih dan gong beserta pemukulnya. Pada permulaan eksperimen Albert tidak takut pada tikus putih tersebut. Pada suatu waktu, pada saat Albert akan memegang tikus dibunyikan gong dengan keras. Dengan suara keras tersebut Albert merasa takut. Keadaan tersebut diulangi beberapa kali, hingga akhirnya terbentuklah rasa takut pada tikus putih pada diri Albert. Atas dasar dasar eksperimen tersebut Watson berpendapat bahwa reaksi emosional dapat dibentuk dengan kondisioning. Rasa takut tersebut dapat dikembalikan lagi ke keadaan semula dengan cara menghadirkan tikus tersebut dengan setahap demi setahap pada situasi yang menyenangkan, misalnya pada waktu Albert makan, sehingga terjadilah experimental extinction (keadaan semula).


5.      Psikologi Gestalt

            Psikologi Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti menggambarkan konfigurasi atau bentuk yang utuh. Suatu gestalt dapat berupa objek yang berbeda dari jumlah bagian-bagiannya. Misal, saat kita melihat mobil, kita tidak hanya melihat lampu, bun, pintu, kaca, dan lain-lain, melainkan hal yang utuh sebagai suatu objek mobil. Dan juga, kita tetap melihat objek itu sebagai mobil dalam keadaan apapun, entah terang ataupun gelap. Demikian pula sebuah lagu, kita dapat memainkan dengan tangga nada yang berbeda tanpa mengubah keutuhan lagu itu sendiri.
            Max Wertheimer ( 1880 – 1943) dapat dipandang sebagai pendiri Psikologi Gestalt, tetapi ia berkerjasama dengan dua orang temannya, yaitu Kurt Koffka (1886 – 1941 ) dan Wolfgang Kohler (1887-1967).
            Menurut Gestalt baik struktualis maupun behavioris kedua-duanya melakukan kesalahan, yaitu karena mengadakan atau menggunakan reductionistic approach , keduanya mencoba membagi pokok bahasan menjadi elemen-elemen. Strukturalism mereduksi perilaku elemen dasar, sedangkan behaviorism mereduksi perilaku menjadi kebiasaan ( habits).
            Gerakan Gestalt lebih konsisten dengan tema utama dalam filsafat Jerman yakni aktivitas mental daripada sistem Wundt. Psikologi Gestalt didasari oleh pemikiran Kant tentang teori navistik yang menyatakan bahwa organisasi aktivitas mental membuat individu beraksi terhadap lingkungannya dengan cara-cara yang khas. Sehingga tujuan psikologi gestalt adalah menyelidiki aktivitas organisasi mental dan mengetahui secara tepat karakteristik interaksi manusia-lingkungan.
           
Prinsip-prinsip teori  gestalt :
1.      Interaksi antara manusia yang dilingkungannya disebut sebagai perceptual field. Sepeti perceptual field memiliki organisasi, yang cenderung dipersepsikan manusia sebagai figure atau ground. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia, bukan skill yang harus dipelajari. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.
2.      Prinsip-prinsip pengorganisasian
·         Principle of proximity : organisasi berdasarkan kedekatan elemen.
·         Principle of similarity : organisasi berdasarkan kesamaan elemen.
·         Principle of obyektive set : organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya.
·         Principle of continuity :organisasi berdasarkan kesenambungan pola.
·         Principle of closure : organisasi berdasarkan “bentuk yang sempurna”
·         Principle of Figure and Ground : organisasi berdasarkan persepsi terhadap bentuk yang lebih menonjol dan dianggap sebagai “figure”.
·         Principle og isomorphism : organisasi berdasarkan konteks.

Psikologi Gestalt memiliki aplikasi dalam kehidupan nyata, sebagai berikut :

1.      Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah mengalami proses belajar, seseorang akan memiliki cara pandang baru dalam menyelesaikan suatu masalah.

Beberapa prinsip belajar yang penting :
a.       Manusia bereaksi terhadap lingkungannya secara keseluruhan , tidak hanya secara intelektual, namun juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya.
b.      Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
c.       Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil hingga dewasa, lengkap dengan aspek-aspeknya.
d.      Belajar adalah perkembangan ke arah diferensiasi yang lebih luas.
e.       Belajar akan berhasil jika memiliki tujuan.

2.      Insight
      Pemecahan masalah secara jitu yang muncul,  setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan atau kemungkinan. Setelah adanya pengalaman insight, individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial and error lagi. Konsep insight adalah fenomena penting dalam belajar.








6.      Psikologi Kognitif

            Ketika kita membaca dan berpikir mengenai pertanyaan apakah definisi psikologi kognitif ?, Kita sedang melibatkan kognisi kita. Psikologi kognitif membahas persepsi terhadap informasi ( Kita membaca pertanyaan), membahas pemahaman terhadap informasi ( Kita memahami inti pertanyaan tersebut ), membahas alur pikiran ( Kita menentukan apakah anda mengetahui jawabannya atau tidak), dan membahas formulasi dan  produksi jawaban kita ( kita mungkin akhirnya menjawab, “psikologi kognitif adalah ilmu yang menyelidiki pola pikir manusia” atau  kita dapat juga menjawab “saya tidak tahu” ). Psikologi kognitif dapat pula dipandang sebagai studi terhadap proses-proses yang melandasi dinamika mental. Sesungguhnya,  psikologi kognitif meliputi segala hal yang kita lakukan.
        Cara mudah bagi kita untuk mendapatkan perspektif mengenai apa itu psikologi kognitif adalah dengan menyelidiki sebuah profesi yang membutuhkan kerja keras kognitif. Contoh, pengontrol lalu-lintas udara.
         Pengontrol lalu-lintas udara bertanggung jawab terhadap keselamatn seluruh penumpang pesawat ( termasuk pilot ) dan mereka mengatur pergerakan lalu lintas penerbangan agar setiap pesawata terbang dalam jarak yang aman, satu dengan yang lain. Mungkin ini kedengarannya mudah tetapi sangat sulit. Pekerjaan tersebut menggabunngkan jam-jam yang membosankan denagn saat-saaat penuh teror yang bisa terjadi kapan saja. Berikut penuturan seorang petugas pengontrol lalu lintas udara :
        “Tugas kami seperti memainkan permainan catur 3 dimensi. Anda harus bisa berkonsentrasi pada bebebrapa hal secara bersamaan, dan harus mampu memvisualisasikan pesawat terbang yang anda pandu. Contohnya, ada sebuah pesawat yang terbang pada ketinggian tertentu, 15 mil dari bandara, dan ada sebuah pesawat lagi yang berada di posisi 20 mil dari bandara dari arah yang berlainan. Pada saat yang sama, ada sebuah pesawat hendak lepas landas dari bandara. Anda duduk dan berfikir, apa yang harus dilakukan, anda harus membuat keputusan cepat dan itu poinnya. Anda harus terus menerus mengumpulkan informasi terbaru dan anda harus mengetahui apa yang terjadi setiap menitnya, setiap detiknya. Kuncinya adalah berfikir cepat dan berkomunikasi dengan jelas”.
        Bagaimana seorang psikolog kognitif memandang profesi pengontrol lalu-lintas udara? Seorang psikologi kognitif akan membagi profesi pengontrol lalu-lintas udara menjadi beberapa tugas yang terpisah, sesuai proses kognitif masing-masing. Sebagai contoh, sebuah pembagian mungkin terdiri dari beberapa proses :
1.      Input eksternal berupa laporan cuaca, informasi yag ditampilkan dilayar radar, dan kontak radio dengan pilot
2.      Atensi selektif dan persepsi dari input eksternal
3.      Membentuk representasi internal yang disimpan dalam memori
4.      Pengambilan keputusan dan perencanaan
        Petugas mengontrol lalu-lintas udara dipilih berdasarkankemampuan kognitif mereka, namun sesungguhnya, segala jenis pekerjaan dan aktifitas apapun dilandasi oleh proses kognitif uang besar.
           
Sejarah Psikologi Kognitif
            George Miller (1920) dapat dipandang sebagai the founder dari psikologi kognitif ini. Ia melakukan penyelidikan dalam statistical learning theory, teori informasi, dan suatu usaha menstimulasi jiwa manusia (human mind) dengan komputer, Miller sampai pada kesimpulan bahwa behaviorisme tidak cocok, dan karenanya ia melepaskan diri dari pandangan tersebut. Adanya kesamaan antara beroperasinya bekerja hanya dengan subyek manusia, tidak lagi dengan hewan.
           
7.      Psikologi Humanistik

            Abraham Maslow ( 1908 – 1970) dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi humanistik. Gerakan ini merupakan gerakan psikologi yang merasa tidak puas dengan psikologi behaviorisme dan psikoanalisis, dan mencari alternatif psikologi yang fokusnya adalah manusia dengan ciri-ciri eksistensinya. Gerakan ini kemudian dikenal dengan psikologi Humanistik.
            Manusia adalah  makhluk yang kreatif, yang dikendalikan bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran-psikoanalisis-, melainkan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri. Pada tahun 1958 Maslow menamakan psikologi humanistik sebagai “kekuatan yang ketiga”, disamping psikologi behavioristik dan psikoanalisis sebagai kekuatan pertama dan kekuatan kedua.
            Menurut Maslow psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari kedalaman sifat manusia, selain mempelajari perilaku yang nampak juga mempelajari perilaku yang tidak nampak ; mempelajari ketidaksadaran sekaligus kesadaran. Instrospeksi sebagai suatu metode penelitian yang telah disingkirkan harus dikembalikan lagi sebagai metode penelitian psikologi. Psikologi harus mempelajari manusia bukan sebagai tanah liat yang pasif, yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar, tetapi manusia adalah makhluk yang aktif, menentukan geraknya sendiri, ada kekuatan dari dalam untuk menentukan perilakunya.
            Ada empat ciri psikologi yang berorientasi humaistik, yaitu :
1.      Memusatka perhatian pada person yang mengalami, dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.
2.      Menekankan pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti kreativitas, aktualisasi diri, sebagai lawan dari pemikiran tentang manusia yang mekanistis dan reduksionistis.
3.      Menyandarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.
4.      Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu.












Referensi


Sarwono, S.W. (2002). Berkenalan Dengan Aliran-Aliran Dan Tokoh Psikologi .Jakarta : PT Bulan Bintang.
Solso L Robert,. Otto H.Maclin., M.Kimberly Maclin (2008). Psikologi Kognitif, edisi        kedelapan.Jakarta : Penerbit Erlangga.
Wade, Carole., Carol Tavris (2008). Psikologi (Jilid 1) (Edisi 9). Jakarta : Penerbit Erlangga.
Walgito, Bimo (2002). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Penerbit ANDI.

0 komentar:

Posting Komentar