1.
Psikologi Strukturalisme
Ide dari seorang Wundt, dipopulerkan oleh
muridnya E.B.Ticthener (1867 -1927) yang menyebut pendekatan Wundt dengan nama strukturalisme. Seperti Wundt, para
strukturalis berharap dapat menganalisis
berbagai sensasi, gambaran, dan perasaan ke dalam elemen-elemen dasar. Sebagai
contoh, ketika seorang mendengarkan metronom dan melaporkan secara tepat apa
yang ia dengar. Kebanyakan dari mereka menangkap sebuah pola (klik, KLIK , klik
,KLIK), meskipun semua bunyi dari metronom tersebut sama. Atau seorang juga bisa
diminta menguraikan semua komponen cita rasa yang berbeda-beda, ketika
menggigit sebuah jeruk ( manis, asam, basah, dan sebagainya).
Bertahun-tahun setelah strukturalisme mati,
Wolfgang Kohler (1959) berpendapat, “apa yang dulu mengganggu kami adalah ...
dampaknya, yaitu bahwa kehidupan manusia yang tampaknya begitu berwarna dan
sangat dinamis, ternyata sebenarnya hanyalah sesuatu yang membosankan”.
Kepercayaan strukturalisme pada introspeksi
diri yang dilakukan oleh para pastisipan juga menimbulkan persoalan bagi
mereka. Para partisipan yang melakukan introspeksi itu kerap memberikan
laporan-laporan yang bertentangan satu sama lain. Ketika ditanya gambaran apa
yang muncul, ketika mendengar kata segitiga,
kebanyakan responden membayangkan suatu benda dengan sudut-sudut yang sama
; responden lainnya menjawab bahwa ia melihat suatu yang melingkar dengan satu
sudut lebih besar dari yang lainnya. Karena itu, sulit mengetahui atribut
mental apa yang menjadi dasar sebuah segitiga.
Objek yang dipelajari dalam psikologi ini
adalah kesadaran, jiwa, dan penginderaan. Misal, Jika seseorang melihat bunga
dan menyatakan “ bunga itu merah”. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa
perhatian seseorang yang utama adalah dalam bunga itu sendiri, bukan pada fakta
bahwa seseorang mengalami kemerahannya itu sendiri.
The immediate experience dalam melihat
pada bunga itu tidak pada obyek itu sendiri, tetapi lebih pada pengalaman
mengenai sesuatu yang berwarna merah. Jadi, menurut Wundt immediate experience itu tidak dibatasi oleh interpretasi, seperti
halnya pada pernyataan pengalaman “bunga itu merah”, dalam arti pada obyek
bunga itu sendiri.
Mengenai introspeksi Wundt mengajukan
beberapa hukum atau ketentuan, yaitu (1) observer harus mampu menentukan kapan
proses itu terjadi ; (2) observer harus memusatkan perhatiannya ; (3) observer
harus mampu mengulangi observasi berulangkali ; (4) eksperimenter harus mampu
mengontrol manipulasi.
Observasi dilakukan terhadap suatu
pengalaman. Hanya orang yang mempunyai pengalaman tersebut yang dapat
mengadakan observasi.
Karena
itu metodenya adalah introspeksi, yaitu penelitian seseorang dengan observasi
dirinya sendiri mengenai keadaan psikisnya.
2.
Psikologi
Fungsional
Pendekatan ini berlawanan dengan strukturalis
yang berusaha untuk menganalisis dan mendeskripsikan sesuatu. Salah satu
pemimpin fungsionalis adalah William James ( 1842 – 1910 ), seorang filsuf,
dokter, sekaligus seorang psikolog Amerika. Ia berpendapat bahwa pencarian
struktur pembangunan pengalaman sebagaimana yang telah dilakukan oleh Wundt dan
Ticthener adalah usaha yang sia-sia dan membuang waktu. Otak dan pikiran terus
menerus berubah menurutnya. Ide-ide yang tetap atau permanen mengenai segitiga
atau apapun juga, tidak muncul secara berkala sebelum adanya “cahaya yang
menyoroti kesadaran” (“footlight of
consciousness”. “Upaya untuk menangkap sifat dasar pemikiran manusia
melalui introspeksi”, sebagaimana yang telah ditulis oleh James, ibarat
“menangkap sesuatu yang berputar agar
dapat melihat gerakannya atau mencoba menyalakan lampu secepat mungkin untuk
dapat melihat seperti apakah kegelapan itu.
Bila para strukturalis memperhatikan apa yang terjadi ketika organisme
melakukan sesuatu, fungsionalis mempermasalahkan bagaimana dan mengapa. Terinspirasi
dari teori evolusi. Para fungsionalis ingin mengetahui bagaimana berbagai
perilaku dan proses mental yang spesifik dapat membantu seseorang atau hewan
beradaptasi dengan lingkungannya. Oleh karena itulah para fungsionalis berusaha
mencari penjelasan mengenai penyebab-penyebab yang mendasari serta konsekuensi
praktis dari setiap perilaku dan proses mental ini. Tidak seperti para
strukturalis para fungsionalis merasa bebas untuk mengambil dan memilih metode
yang ada.
Namun sayang, aliran ini kurang memiliki
teori atau program penelitian yang tepat, sehingga kurang mampu menarik
pengikut. Akhirnya penelitian tentang kesadaran dan konsep aliran ini tidak
dapat bertahan. Meskipun demikian penekanan para fungsionalis terhadap penyebab
dan konsekuensi perilaku telah menentukan perjalanan psikologi sebagai ilmu.
3.
Psikoanalisis
Psikoanalisis menunjuk bersamaan tiga hal:
1. 1. Sebuah metode
penyelidikan pikiran. Dan terutama dari pikiran bawah sadar;
2. 2. Sebuah terapi
neurosis terinspirasi dari metode di atas;
3. 3. Sebuah stand
baru saja disiplin yang didasarkan pada pengetahuan yang diperoleh dari
penerapan metode penelitian dan pengalaman klinis.
Akibatnya tidak ada yang jelas dalam definisi psikoanalisis.
Psikoanalisis adalah teknik investigasi pikiran dan terapi terinspirasi dari
penelitian ini. Terutama terapi untuk lebih
menekankan bahwa psikoanalisis menyiratkan tidak ada spekulasi, bahwa itu
adalah lebih dekat dengan psikoterapi dan jauh dari filsafat, seni atau budaya
secara umum. Ilmu psikoanalisis menyebutkan bahwa ilmu ini datang dari
studi terkenal
Freud disebut Totem dan
Tabu, di mana ia meluncurkan dirinya dan anthropologic analisis sosial mendasarkan pada pengetahuan yang menerapkan psikoanalisis
untuk terapi neurosis.
Pada abad 19 di
Amerika muncul gerakan yang sangat besar dan populer “Mind Cure”. Mind Cure merupakan usaha untuk mengoreksi
“pikiran-pikiran yang salah” yang membuat seseorang menjadi cemas, depresif,
dan tidak bahagia. “Mind Cure” ini yang akan mengawali
muncul terapi kognitif, suatu terapi yang memiliki pengaruh besar didunia.
Sigmund
Freud (1859-1939), seorang neurolog yang tidak dikenal, mendengarkan laporan
pasien-pasiennya mengenai depresi. Freud menjadi sangat yakin penyakit
pasiennya diakibatkan oleh penyebab mental bukan penyebab fisik.
Kesadaran dan
Ketidaksadaran sebagai aspek kepribadian
Pada permulaan Freud
berpendapat bahwa kehidupan psikis mengandung dua bagian, yaitu kesadaran (the conscious) dan ketidaksadaran (the unconscious). Bagian kesadaran
bagaikan permukaan gunung es yang nampak merupakan bagian kecil dari kepribadian,
sedangkan bagian ketidaksadaran (yang ada di bawah permukaan air) mengandung
insting-insting yang mendorong semua perilaku manusia.
Freud mengemukakan pendapatnya
tentang preconscious atau foreconscious. Tidak seperti dalam
ketidaksadaran, maka dalam preconscious materinya
belum dipres, sehingga materinya dapat mudah ditimbulkan dalam kesadaran.
Freud
kemudian merevisi terutama kesadaran dan ketidaksadaran dan mengintrodusir id, ego, dan superego. Id berkaitan
dengan pengertian yang semula ketidaksadaran, merupakan bagian yang primitif
dari kepribadian. Kekuatan yang berkaitan dengan id mencakup insting seksual dan insting agresif. Id membutuhkan satisfaction dengan segera tanpa memperhatikan lingkungan realitas
secara objektif, yang oleh Freud disebutnya sebagai prinsip kenikmatan (pleasure prinsip). Ego sadar akan realitas. Oleh Freud ego disebut sebagai prinsip realitas (reality principle). Ego menyesuaikan
diri dengan realita. Freud mengibaratkan hubungan ego-id sebagai penunggang kuda. Penunggang akan memperhatikan
keadaan realitas, sedangkan kudanya mau kemana-mana.
Struktur kepribadian yang
ketiga yaitu superego berkembang pada
permulaan masa anak sewaktu peraturan peraturan diberikan oleh orangtua dengan
cara hadiah atau hukuman. Perilaku yang salah (yang memperoleh hukuman) menjadi
bagian dari conscience anak, yang
merupakan bagian dari superego. Perbuatan anak semula dikontrol oleh
orangtuanya, tetapi apabila superego telah
terbentuk, maka kontrol adri dirinya sendiri. Superego merupakan prinsip moral.
4.
Psikologi
Behaviorisme
Behaviorisme
adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada
tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal
psikologi. Behaviorisme merupakan aliran
revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup
dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi
terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan
laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam
bawah sadar yang tidak tampak).
Behaviorisme
secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi
dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata.
Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam
elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Berarti juga behaviorisme
sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa
dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.
Behaviorisme
ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur,
dilukiskan, dan diramalkan.
Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya
manusia tidak membawa bakat apa-apa.
Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari
lingkungan sekitarnya. Lingkungan
yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan
menghasilkan manusia baik. Kaum behavioris memusatkan
dirinya pada pendekatan ilmiah yang sungguh-sungguh objektif. Kaum behavioris mencoret dari kamus ilmiah
mereka, semua peristilahan
yang bersifat subjektif,
seperti sensasi, persepsi,
hasrat, tujuan, bahkan termasuk
berpikir dan emosi,
sejauh kedua pengertian
tersebut dirumuskan secara subjektif.
Fungsionalisme
menjadi dasar bagi behaviorisme melalui pengaruhnya pada tokoh utama
behaviorisme, yaitu Watson. Watson adalah murid dari Angell dan menulis
disertasinya di University of Chicago. Dasar pemikiran Watson yang memfokuskan
diri lebih proses mental daripada elemen kesadaran, fokusnya perilaku nyata dan
pengembangan bidang psikologi pada animal psychology dan child psychology
adalah pengaruh dari fungsionalisme. Meskipun demikian, Watson menunjukkan
kritik tajam pada fungsionalisme.
Menurut
pandangan Watson ( behaviorist view) psikologi
itu murni merupakan cabang daro ilmu alam (natural
science) eksperimental. Tujuannya secara teoretis adalah untuk memprediksi
dan mengontrol perilaku. Introspeksi bukanlah merupakan metode yang digunakan.
Yang dipelajari adalah perilaku yang diamati, bukan kesadaran karena merupakan
pengertian yang dubious.
Eksperimen
Watson yang paling terkenal adalah eksperimennya dengan anak yang bernama
Albert, yaitu anak yang berusia 11 bulan. Watson dan Rosali Rayner istrinya
mengadakan eksperimen dengan Albert dengan menggunakan tikus putih dan gong
beserta pemukulnya. Pada permulaan eksperimen Albert tidak takut pada tikus
putih tersebut. Pada suatu waktu, pada saat Albert akan memegang tikus
dibunyikan gong dengan keras. Dengan suara keras tersebut Albert merasa takut.
Keadaan tersebut diulangi beberapa kali, hingga akhirnya terbentuklah rasa
takut pada tikus putih pada diri Albert. Atas dasar dasar eksperimen tersebut
Watson berpendapat bahwa reaksi emosional dapat dibentuk dengan kondisioning.
Rasa takut tersebut dapat dikembalikan lagi ke keadaan semula dengan cara
menghadirkan tikus tersebut dengan setahap demi setahap pada situasi yang
menyenangkan, misalnya pada waktu Albert makan, sehingga terjadilah experimental extinction (keadaan
semula).
5.
Psikologi
Gestalt
Psikologi
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti menggambarkan konfigurasi atau
bentuk yang utuh. Suatu gestalt dapat
berupa objek yang berbeda dari jumlah bagian-bagiannya. Misal, saat kita melihat
mobil, kita tidak hanya melihat lampu, bun, pintu, kaca, dan lain-lain,
melainkan hal yang utuh sebagai suatu objek mobil. Dan juga, kita tetap melihat
objek itu sebagai mobil dalam keadaan apapun, entah terang ataupun gelap.
Demikian pula sebuah lagu, kita dapat memainkan dengan tangga nada yang berbeda
tanpa mengubah keutuhan lagu itu sendiri.
Max
Wertheimer ( 1880 – 1943) dapat dipandang sebagai pendiri Psikologi Gestalt,
tetapi ia berkerjasama dengan dua orang temannya, yaitu Kurt Koffka (1886 –
1941 ) dan Wolfgang Kohler (1887-1967).
Menurut
Gestalt baik struktualis maupun behavioris kedua-duanya melakukan kesalahan,
yaitu karena mengadakan atau menggunakan reductionistic
approach , keduanya mencoba membagi pokok bahasan menjadi elemen-elemen.
Strukturalism mereduksi perilaku elemen dasar, sedangkan behaviorism mereduksi
perilaku menjadi kebiasaan ( habits).
Gerakan
Gestalt lebih konsisten dengan tema utama dalam filsafat Jerman yakni aktivitas
mental daripada sistem Wundt. Psikologi Gestalt didasari oleh pemikiran Kant
tentang teori navistik yang menyatakan bahwa organisasi aktivitas mental
membuat individu beraksi terhadap lingkungannya dengan cara-cara yang khas.
Sehingga tujuan psikologi gestalt adalah menyelidiki aktivitas organisasi
mental dan mengetahui secara tepat karakteristik interaksi manusia-lingkungan.
Prinsip-prinsip teori gestalt :
1.
Interaksi
antara manusia yang dilingkungannya disebut sebagai perceptual field. Sepeti perceptual field memiliki organisasi, yang
cenderung dipersepsikan manusia sebagai figure atau ground. Oleh karena itu
kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia, bukan skill yang harus
dipelajari. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.
2.
Prinsip-prinsip
pengorganisasian
·
Principle of
proximity
: organisasi berdasarkan kedekatan elemen.
·
Principle of
similarity :
organisasi berdasarkan kesamaan elemen.
·
Principle of
obyektive set : organisasi
berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya.
·
Principle of continuity
:organisasi
berdasarkan kesenambungan pola.
·
Principle of
closure :
organisasi berdasarkan “bentuk yang sempurna”
·
Principle of
Figure and Ground : organisasi
berdasarkan persepsi terhadap bentuk yang lebih menonjol dan dianggap sebagai
“figure”.
·
Principle og
isomorphism :
organisasi berdasarkan konteks.
Psikologi Gestalt memiliki
aplikasi dalam kehidupan nyata, sebagai berikut :
1.
Proses
belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar,
terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah mengalami proses
belajar, seseorang akan memiliki cara pandang baru dalam menyelesaikan suatu
masalah.
Beberapa
prinsip belajar yang penting :
a.
Manusia
bereaksi terhadap lingkungannya secara keseluruhan , tidak hanya secara
intelektual, namun juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya.
b.
Belajar
adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
c.
Manusia
berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil hingga dewasa, lengkap dengan
aspek-aspeknya.
d.
Belajar
adalah perkembangan ke arah diferensiasi yang lebih luas.
e.
Belajar
akan berhasil jika memiliki tujuan.
2.
Insight
Pemecahan masalah secara jitu yang muncul,
setelah adanya proses pengujian berbagai
dugaan atau kemungkinan. Setelah adanya pengalaman insight, individu mampu
menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial and error lagi. Konsep insight
adalah fenomena penting dalam belajar.
6.
Psikologi
Kognitif
Ketika kita membaca dan berpikir
mengenai pertanyaan apakah definisi
psikologi kognitif ?, Kita sedang melibatkan kognisi kita. Psikologi
kognitif membahas persepsi terhadap informasi ( Kita membaca pertanyaan),
membahas pemahaman terhadap informasi ( Kita memahami inti pertanyaan tersebut
), membahas alur pikiran ( Kita menentukan apakah anda mengetahui jawabannya
atau tidak), dan membahas formulasi dan
produksi jawaban kita ( kita mungkin akhirnya menjawab, “psikologi
kognitif adalah ilmu yang menyelidiki pola pikir manusia” atau kita dapat juga menjawab “saya tidak tahu” ).
Psikologi kognitif dapat pula dipandang sebagai studi terhadap proses-proses
yang melandasi dinamika mental. Sesungguhnya,
psikologi kognitif meliputi segala hal yang kita lakukan.
Cara mudah
bagi kita untuk mendapatkan perspektif mengenai apa itu psikologi kognitif
adalah dengan menyelidiki sebuah profesi yang membutuhkan kerja keras kognitif.
Contoh, pengontrol lalu-lintas udara.
Pengontrol lalu-lintas udara bertanggung jawab
terhadap keselamatn seluruh penumpang pesawat ( termasuk pilot ) dan mereka
mengatur pergerakan lalu lintas penerbangan agar setiap pesawata terbang dalam
jarak yang aman, satu dengan yang lain. Mungkin ini kedengarannya mudah tetapi
sangat sulit. Pekerjaan tersebut menggabunngkan jam-jam yang membosankan denagn
saat-saaat penuh teror yang bisa terjadi kapan saja. Berikut penuturan seorang
petugas pengontrol lalu lintas udara :
“Tugas
kami seperti memainkan permainan catur 3 dimensi. Anda harus bisa
berkonsentrasi pada bebebrapa hal secara bersamaan, dan harus mampu
memvisualisasikan pesawat terbang yang anda pandu. Contohnya, ada sebuah
pesawat yang terbang pada ketinggian tertentu, 15 mil dari bandara, dan ada
sebuah pesawat lagi yang berada di posisi 20 mil dari bandara dari arah yang
berlainan. Pada saat yang sama, ada sebuah pesawat hendak lepas landas dari
bandara. Anda duduk dan berfikir, apa yang harus dilakukan, anda harus membuat
keputusan cepat dan itu poinnya. Anda harus terus menerus mengumpulkan
informasi terbaru dan anda harus mengetahui apa yang terjadi setiap menitnya,
setiap detiknya. Kuncinya adalah berfikir cepat dan berkomunikasi dengan
jelas”.
Bagaimana seorang psikolog kognitif
memandang profesi pengontrol lalu-lintas udara? Seorang psikologi kognitif akan
membagi profesi pengontrol lalu-lintas udara menjadi beberapa tugas yang
terpisah, sesuai proses kognitif masing-masing. Sebagai contoh, sebuah
pembagian mungkin terdiri dari beberapa proses :
1.
Input
eksternal berupa laporan cuaca, informasi yag ditampilkan dilayar radar, dan
kontak radio dengan pilot
2.
Atensi
selektif dan persepsi dari input eksternal
3.
Membentuk
representasi internal yang disimpan dalam memori
4.
Pengambilan
keputusan dan perencanaan
Petugas
mengontrol lalu-lintas udara dipilih berdasarkankemampuan kognitif mereka,
namun sesungguhnya, segala jenis pekerjaan dan aktifitas apapun dilandasi oleh
proses kognitif uang besar.
Sejarah
Psikologi Kognitif
George Miller (1920) dapat dipandang
sebagai the founder dari psikologi
kognitif ini. Ia melakukan penyelidikan dalam statistical learning theory, teori informasi, dan suatu usaha
menstimulasi jiwa manusia (human mind) dengan
komputer, Miller sampai pada kesimpulan bahwa behaviorisme tidak cocok, dan
karenanya ia melepaskan diri dari pandangan tersebut. Adanya kesamaan antara
beroperasinya bekerja hanya dengan subyek manusia, tidak lagi dengan hewan.
7.
Psikologi
Humanistik
Abraham Maslow ( 1908 – 1970) dapat dipandang sebagai
bapak dari psikologi humanistik. Gerakan ini merupakan gerakan psikologi yang
merasa tidak puas dengan psikologi behaviorisme dan psikoanalisis, dan mencari
alternatif psikologi yang fokusnya adalah manusia dengan ciri-ciri
eksistensinya. Gerakan ini kemudian dikenal dengan psikologi Humanistik.
Manusia adalah
makhluk yang kreatif, yang dikendalikan bukan oleh kekuatan-kekuatan
ketidaksadaran-psikoanalisis-, melainkan oleh nilai-nilai dan
pilihan-pilihannya sendiri. Pada tahun 1958 Maslow menamakan psikologi
humanistik sebagai “kekuatan yang
ketiga”, disamping psikologi behavioristik dan psikoanalisis sebagai
kekuatan pertama dan kekuatan kedua.
Menurut Maslow psikologi harus lebih manusiawi, yaitu
lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus
mempelajari kedalaman sifat manusia, selain mempelajari perilaku yang nampak
juga mempelajari perilaku yang tidak nampak ; mempelajari ketidaksadaran
sekaligus kesadaran. Instrospeksi sebagai suatu metode penelitian yang telah
disingkirkan harus dikembalikan lagi sebagai metode penelitian psikologi.
Psikologi harus mempelajari manusia bukan sebagai tanah liat yang pasif, yang
ditentukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar, tetapi manusia adalah makhluk yang
aktif, menentukan geraknya sendiri, ada kekuatan dari dalam untuk menentukan
perilakunya.
Ada empat ciri psikologi yang berorientasi humaistik,
yaitu :
1. Memusatka
perhatian pada person yang mengalami,
dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam
mempelajari manusia.
2. Menekankan
pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti kreativitas, aktualisasi
diri, sebagai lawan dari pemikiran tentang manusia yang mekanistis dan
reduksionistis.
3. Menyandarkan
diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari dan
prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.
4. Memberikan
perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat
manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap
individu.
Referensi
Sarwono, S.W. (2002). Berkenalan Dengan Aliran-Aliran Dan Tokoh
Psikologi .Jakarta : PT Bulan
Bintang.
Solso L Robert,. Otto H.Maclin.,
M.Kimberly Maclin (2008). Psikologi
Kognitif, edisi kedelapan.Jakarta
: Penerbit Erlangga.
Wade, Carole., Carol Tavris
(2008). Psikologi (Jilid 1) (Edisi 9).
Jakarta : Penerbit Erlangga.
Walgito, Bimo (2002). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Penerbit ANDI.
0 komentar:
Posting Komentar