Minggu, 02 Desember 2012

Sejarah Singkat Pemilu di Indonesia Selama Masa Kepemimpinan Soekarno



            Pemilu pertama di Indonesia diadakan pada tahun 1955, atau sepuluh tahun setelah deklarasi kemerdekaan pada tahun 1945, dan lima tahun setelah UUDS 1950 membangun sebuah demokrasi perwakilan liberal dengan sistem parlementer sebagai bentuk pemerintahan.
            Sebenarnya , sejak awal para bapak bangsa (founding fathers) sudah merencanakan untuk mengadakan pemilu Hanya saying sekali, saat itu kita masih berada dalam posisi zona merah berhadapan dengan tentara colonial Belanda.
            Tahun 1949 perang kemerdekaan berakhir, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden No.X/1949 yang bertujuan meliberalisasikan sistem politik. UUDS 1950 pun menggantikan UUD 1945 yang berlaku sebelumnya.
            Konstitusi baru yang dibuat yaitu menetapkan presiden sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Sistem ini memang berbeda dari sebelumnya karena sistem yang sebelumnya lebih menekankan sistem presidensil yang kuat. Namun, sistem baru itu juga dianggap gagal, karena kabinet terus menerus berada dalam situasi gonjang-ganjing. Kabinet yang paling kuat secara politik hanya bertahan dua tahun.
            Pemilu untuk memilih para anggota majelis konstitusional (Konstituante) dianggao sebagai jawaban bagi instabilitas politk. Pada Septembert 1955 pemilu pertama berhasil dilaksanakan, saying hasilnya belum memuaskan karena tidak ada parpol yang mampu meraih lebih dati seperempat jumlah suara yang sah. Partai Nasional Indonesia (PNI) meraih suara tertimggi dengan 22,3 persen, disusul oleh Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dengan 20,9 suara, Partai Nahdlatul Ulama (NU) dengan 18,4 persen, dan Partai Komunis Indonesia ( PKI) dengan 19 persen ( Feith, seperti dikutip oleh Wolf 2007 : 102).
            Pemilu 1955 memang tidak memenuhi kriteria publik dalam mencapai pemenuhan kebutuhan politik. Pertarungan berbagai kubu ideologi, pertentangan antara parlemen dan kabinet , serta konflik antar kelompok masyarakat, telah menciptakan kondisi politik yang komplikasi kronis. Jadi, pemilu dianggap tidak menyelesaikan masalah instabilitas politik yang berlangsung bertahun-tahun dibawah payung demokrasi parlementer(liberal).
           

            Dengan dukungan dari tentara, Presiden Soekarno memberlakukan keadaan darurat pada tahun 1957. Parlemen dibubarkan dan UUD 1945 menggantikan UUDS 1950. Langkah ini memungkinkan Bung Karno mengganti parlemen terpilih dengan anggota yang dipilihnya sendiri, dengan kata lain, ia mengembalikan menuju sistem presidensil, dan melarang partai-partai politik menentang perubahan ini. Rejim otoriter kembali dibangun , Presiden Soekarno mengkonsolidasikan kekuasaanya dengan mengusung Demokrasi Terpimpin. Anggota parlemen PKI dan PNI menjadi bekingan kuat untuk bertahan dari terpaan pemberontak.
            Pada tahun-tahun berikutnya, Bung Karno semakin lama cenderung semakin ke kiri, yang membuatnya berhadapan dengan tentara.  Pada tahun 1965 terjadi kudeta gagal yang dikenal sebagai peristiwa G-30-S. Kudeta itu gagal, dilindas oleh Pangkostrad Mayjend Soeharto. Keadaan itu memojokkan Sukarno ke dalam situasi gawat.
            Tentara mengecam PKI sebagai dalang kudeta. Dalam bulan-bulan berikutnya, mereka yang dituduh komunis diburu dan dibunuhi oleh tentara dan lawan-lawan politik PKI. Akibatnya, ratusan ribu “komunis” juga ditangkap dan ditahan tanpa proses pengadilan. TNI-AD muncul dari pergulatan politik itu dengan kemenangan penuh.
            Menjelang tahun 1967, Mayjend Soeharto telah melucuti kekuasaan Presiden Soekarno. Sebuah rezim otoriter otoriter baru yang disebut “Oder Baru” dibentuk. Soerharto terpilih sebagai pejabat Presiden RI oleh parlemen. Dengna didukung oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, yang memuji Soeharto karena keberhasilannya dalam menumpas PKI, Orde Baru mulai mempersiapkan pemilunya yang pertaman, yang dijadwalkan berlangsung 1971.[1]




[1] Aurel Croissant, et al.,Electoral Politics in Southeast & East Asia,( Singapore : Friedrich-Elbert-Stiftung Office for Regional, 2002),hal.103.


0 komentar:

Posting Komentar